Enowiga’s Weblog











{Juni 27, 2009}   Prisa

Dendra masih saja duduk di bangku reot itu. Sendiri menatap langit malam yang penuh dengan gemerlap cahaya bintang. satu-satu mereka berkedip seakan mengucapkan salam untuk Dendra. Namun, kilauan bintang yang kian menawan seakan tidak ada artinya bagi Dendra. Wajahnya yang tampan diselimuti awan kelabu. Seharian ini memang dia terlihat termenung. Entah apa yang dia pikirkan. Tatapannya masih mengarah pada satu bintang paling terang.
“Prisa.” Ucap Dendra perlahan. Kemudian ia menghela napas panjang. Kini ia menundukkan pandangan. Tak lagi memandang gemerlapnya langit bertabur bintang nan elok. Kini ia menatap tanah coklat berumput jarang di depan rumahnya itu.
“Prisa.” Ia mengucap nama itu lagi. Entah siapa orang yang disebutnya itu. Seakan orang itu adalah orang yang sangat membelenggu hati dan perasaannya. Dendra pun terdiam. Ia memejamkan mata. Seakan menahan suatu rasa dalam dadanya. Lama Dendra terdiam dalam renungannya. Matanya masih terpejam. Namun, tiba-tiba seakan ada angin mengelur punggungnya. Bukan angin dingin, namun ini angin hangat. Bulu kuduk Dendra mulai bangkit dari kewajarannya. Namun Dendra tetap berusaha tenang. Ia tak ingin memikirkan apapun yang aneh-aneh. Matanya pun masih terpejam. Akan tetapi, angin itu tetap bertiup. Kini perasaan Dendra mulai tak tenag. Pikirannya melajang. Dan saat terasa olehnya sebuah sentuhan halus di punggungnya ia pun berteriak.
“Setan!!!!!” Namun matanya masih terpejam. Ia bukannya membuka mata dan lari. Namun meringkuk di bangku reot itu. Tubuhnya menggigil ketakutan.

Beberapa saat Dendra terdiam. Merasakan keadaan. Kini ia yakin, tak ada seorangpun di sampingnya. Ia membuka mata dan mulai meluruskan tubuhnya.
“Waaaaaaaaaaaa.” Seorang gadis berambut panjang dan berbaju putih berdiri di depannya. Dendra menjerit dan terkejut setengah mati. Matanya melotot dan tangannya kuat mencengkram sandaran kursi.
Melihat tingkah Dendra, gadis itu malah tertawa geli.
“Hahaha…mas Dendra apa-apaan sih. Kaya ngeliat setan aja. Hahaha…” Ucap gadis itu seraya tertawa terpingkal-pingkal.
“Al sialan kamu Ris. Kirain setan. Untung aku nggak jantungan. Coba kalau aku jantungan Ris, udah wakhim -mati kayaknya.” Dendra mengelus dada. Ia merasa lega. Makhluk tadi -gadis itu- ternyata bukan makhluk halus yang sedari tadi ia khawatirkan. Ia justru makhluk cantik bermuka bulat. Ia adalah Risma, adik kandungnya sendiri.
“Lagian mas Dendra ngapain si malem-malem duduk sendirian di sini. Mana dari tadi nyebut nama Prisa. Siapa sih Prisa itu? Ceweknya mas Den ya?” Risma memberondong Dendra dengan segala pertanyaan yang ada di benaknya. Ternyata sedari tadi Risma sudah memata-matai Dendra.
“Prisa itu..’Gubrak’….”
“Au…” Keduanya mengaduh. Kursi reot itu runtuk berkeping-keping saat Risma meletakkan pantat montoknya di kursi tersebut. Kini Risma terduduk di tanah, sementara Dendra terpelanting ke belakang, karena saat Risma meletakkan pantat bohainya Dendra sedang duduk dalam keadaan meyender di senderan kursi tersebut.
“Aduch.. sakit mas..” Risma berdiri dan mengelus pantatnya. Sementara Dendra berdiri sempoyongan karena kepalanya puyeng setelah koprol 360 derajat.
“Kamu si Ris, udah tahu itu bangku reot. Kamu pake ikut duduk segala.” Dendra masih menggeleng-geleng kepalanya secara berkala untuk melepas rasa puyengnya.
“Pindah ke teras aja yuk mas.” Ajak Risma.
Keduanya berjalan menuju teras. Kini mereka sudah duduk di tempat yang lebih nyaman. Dendra menyandarkan tubuhnya di kursi teras. Demikian juga dengan Risma, tapi dia masih menambah kesibukkkan dengan mengelus pantatnya yang masih nyilu karena jatuh secara tiba-tiba.
“Benar-benar tragedi. Eh.. bytheway.. Prisa itu siapa? Tadi mas Den belum sempat menjelaskan.” Risma masih ingat saja dengan sasaran rasa penasarannya.
“Hmm.. kayaknya kamu pengen tau banget Ris. Emang kenapa?” Dendra membalik pertanyaan tanpa menoleh pada Risma yang sudah siap mendengar jawaban dari kakaknya itu.
“Ya abis aneh aja, jarang-jarang loh mas Den nyebut nama cewek. Namaku aja jarang disebut.” Ucapnya sambil manyun.
“Oke dech. Mas jelasin. Jadi Prisa itu….”
“Dendra…” Terdengar panggilan dari dalam rumah.
“Ya Mah?” Dendra menyahut.
“Ada telpon dari Yosan. Katanya penting.” Ucap Mamahnya.
“Penting apa ah… Males Mah…” Teriak Dendra.
“Katanya penting… Soal PRISA…” Ucap Mamahnya lagi.
Mendengan nama Prisa, Dendra langsung loncat dari kursi dan menuju tempat mamahnya berada. Risma mengikuti Dendra masuk. Ia masih penasaran dengan nama orang yang bernama Prisa. Sebenarnya siapa sih Prisa itu?

(to be continue….)



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.